Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf 7:96) Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al Isra’ 17:16) Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (QS Al An’am 6:44).
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

26 Oktober 2010

"Mimpi Buruk" Mengeluarkannya Dari Kegelapan Menuju Cahaya Islam

"Mimpi Buruk" Mengeluarkannya Dari Kegelapan Menuju Cahaya Islam

Sejak kecil Angelene McLaren sudah membangun hubungan yang mendalam dengan "tuhan". Tentu saja "tuhan" yang diyakini dalam agama McLaren yang lahir dan dibesarkan di tengah keluarga penganut Katolik. Ia tidak pernah berpikir untuk pindah agama meski ajaran Katolik diakuinya membingungkan, kontradiktif dan ambigu. Bahkan ketika duduk di sekolah menengah atas. McLaren memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada Katolik. Ia menghadiri misa dua kali sehari, melakukan pengakuan dosa sedikitnya seminggu sekali dan melaksanakan semua ritual yang diajarkan para pendeta, dengan satu keinginan agar ia lebih dekat pada "tuhan"nya.
Tapi semakin ia mengenal lebih dalam ajaran Katolik yang dianutnya, McLaren menemukan makin banyak pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan ini yang tidak bisa dijawab oleh ajaran agamanya. Pertanyaan-pertanyaan yang makin hari menekan jiwanya seperti "Siapa dirinya", "Siapa dan apakah tuhan itu sebenarnya?", "Siapa yang menjadi sosok teladan baginya?", "Mengapa tuhan memiliki anak?" dan pertanyaan lain yang tidak mampu dijawab bahkan oleh pendetanya sendiri.
"Pendeta saya hanya mengatakan bahwa saya harus memiliki agama, dan agama itu tidak harus masuk akal, yang penting keyakinan saya terhadap agama itu cukup kuat," kata McLaren menirukan ucapan pendetanya.
"Pernyataan itu tidak memuaskan saya, dan ketika lulus sekolah menengah atas, gereja saya tinggalkan dan mulai menjacari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu," sambungnya.
Sejak meninggalkan gereja, McLaren merasakan kekosongan dalam jiwanya. Untuk melepaskan diri dari kekosongan itu, ia mulai mempelajari aneka agama mulai dari Hindu, Budha, Taoisme dan mempratekannya. Ia bahkan mempelajari ilmu yang berbau sihir meski bukan untuk digunakan untuk tujuan jahat.
"Banyak orang yang menyebut saya gila. Mereka tidak memahami bahwa saya sedang melakukan pencarian, pencarian yang sejati. Tapi itu semua mengecewakan saya karena saya merasa tidak ada yang cocok dengan apa yang saya cari," tutur McLaren.
Hingga suatu hari, adik perempuannya berkunjung dan McLaren terkejut melihat penampilan sang adik yang mengenakan busana longgar dan panjang lengkap dengan jilbab panjang yang menutup bagian dada dan menjulur hingga pergelangan tangannya. McLaren heran melihat pakaian yang dikenakan adik perempuannya itu, apalagi saat itu musim panas dan udara siang itu sangat panas. Setelah mendapat penjelasan, McLaren baru tahu bahwa adiknya sudah menjadi seorang muslimah.
Ia seperti tersentak mendengar kata Islam. Selama ini ia mempelajari banyak agama tapi tidak pernah terlintas dalam pikirannya soal agama Islam. Pengetahuannya tentang Islam sangat minim, begitupula informasi tentang Islam yang ia peroleh penuh dengan stigma negatif tentang Islam.
McLaren lalu memutuskan pindah ke California, masih tanpa agama atau keinginan untuk mempelajari Islam, karena stigma negatif tentang Islam masih begitu melekat di kepalanya. Ia terus melakukan pencarian dan sampailah ia pada titik kulminasi dimana ia merasa putus asa dan menyerah. McLaren pun mencoba untuk tidak memusingkan soal agama dan ia memutuskan untuk menjalani hidup ini apa adanya.
Dua tahun berlalu. Ia bertunangan dengan salah seorang reman kuliahnya. Hidup McLaren belum berubah. Tanpa agama, tanpa keyakinan akan Tuhan. Jauh di dasar hatinya mengatakan bahwa hidupnya berantakan, tapi McLaren berusaha menepisnya hingga ia mengalami malam yang aneh.
Ketika itu, menjelang kepulangannya ke rumah orang tuanya di Michigan untuk mengurus pernikahannya. McLaren bermimpi buruk, mimpi terburuk yang pernah dialaminya selama hidup. "Dalam mimpi itu saya melihat dua laki-laki, ukuran tubuhnya sangat tinggi dan berpakaian serba putih berdri di ujung tempat tidur. Saya pikir mereka alien atau malaikat, saya tidak tahu pasti. Tapi saya sangat ketakutan dan mencoba menghindar dari kedua lelaki itu. Tapi makin saya menghindar, saya merasa semakin dekat dengan mereka," ungkap McLaren.
Ia melanjutkan, "Akhirnya, dalam mimpi itu, kami sampai di sebuah puncak gunung yang sangat tinggi, dibawahnya terbentang samudera luas, berwarna merah seperti darah dan panas seperti lava. Kedua lelaki itu menyuruh saya melihat ke arah samudera itu dan apa yang saya lihat masih jelas saya ingat sampai saya mati. Samudera itu penuh dengan orang yang telanjang dan dibolak-balik berkali-kali, seperti daging yang dipanggang di atas api."
"Orang-orang itu berteriak 'tolong kami, tolong kami!'. Saya merasa bahwa apa yang saya lihat ada neraka. Saya sangat ketakutan. Tapi ketika saya menceritakan mimpi itu pada tunangan saya, ia hanya tertawa dan mengatakan bahwa imajinasi saya terlalu berlebihan. Tapi saya sulit melupakan mimpi itu," papar McLaren.
Ketika pulang kampung ke Michigan itulah, ia bertemu dengan saudara perempuannya yang lain dan seorang sepupunya yang ternyata juga sudah memeluk agama Islam. Rasa ingin tahunya tentang Islam pun mulai muncul, lalu ia meminta pada saudara perempuannya itu untuk memberikan buku-buku tentang Islam yang bisa dibacanya. Dan buku pertama yang dibaca McLaren berjudul "Description of the Hell Fire".
"Apa yang saya lihat dalam mimpi saya ada di buku itu. Rasa ingin tahu saya makin besar dan saya mulai banyak membaca dan membaca, datang ke ceramah-ceramah, mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Semakin saya belajar tentang Islam, otak dan hati saya makin kuat mengatakan bahwa inilah yang selama ini saya cari," ujar McLaren.
Ia akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam. Persoalan pun menghadangnya, karena tunangannya tidak mau ikut masuk Islam. McLaren harus memilih antara tunangannya atau Islam dan ia tahu keputusan yang paling tepat adalah bersyahadat dan menjadi seorang muslimah.
"Allah Swt mengatakan jika Anda benar-benar beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya, maka Ia akan mengujimu. Itulah ujian buat saya. Meski merasakan kepedihan yang sangat karena kehilangan seorang tunangan, saya tetap memilih masuk Islam," tandas McLaren.
Sekarang, sudah enam tahun McLaren memeluk Islam. Ia memilih nama Sumayyah sebagai nama Islamnya. Sumayyah bekerja sebagai wartawan dan humas. Ia hidup bahagia dengan seorang suami yang baik dan dikaruniai seorang putra.
"Buat mereka yang benar-benar menginginkan petunjuk, Allah Swt berfirman bahwa Dia akan memberikan petunjuk bagi mereka dari kegelapan menuju cahaya dan itulah yang Allah berikan untuk saya," ujar Summayah menutup kisahnya menjadi seorang muslimah. (ln/IFT) www.eramuslim.com

Kaligrafi Masjid Alhambra Mengantarnya Menjadi Seorang Muslimah

Kaligrafi Masjid Alhambra Mengantarnya Menjadi Seorang Muslimah

"Saya duduk di dalam Masjid Alhambra, Spanyol sambil menatap tulisan yang terukira indah di dinding-dindingnya. Tulisan yang paling indah yang pernah saya lihat. Saya lalu bertanya pada orang-orang di sekitar 'bahasa apa itu?' mereka menjawab bahwa itu bahasa Arab," kenang Karima Burns ketika pertama kali ia mengenal tulisan dalam bahasa Arab.
Tulisan Arab yang pertama kali dilihat Burns ternyata sangat berkesan di hatinya. Hingga keesokan harinya, ketika pemandu tur menanyakan soal pilihan bahasa buku panduan wisata yang ia inginkan, dengan mantap Burns menjawab ia menginginkan buku panduan wisata yang ditulis dalam bahasa Arab.
"Bahasa Arab? Apa Anda bisa berbahasa Arab," tanya si pemandu ingin tahu
"Tidak. Bisakah Anda juga memberikan saya buku versi bahasa Inggrisnya?" kata Burns.
Di akhir perjalanan wisatanya, Burns membawa "oleh-oleh" satu tas penuh buku panduan wisata tempat-tempat yang dikunjunginya di Spanyol. semuanya berbahasa Arab. Saking banyaknya, Burns sampai memberikan pakaiannya pada orang lain agar buku-buku itu bisa masuk semua ke dalam tasnya. Baginya, buku-buku panduan wisata berbahasa Arab itu ibarat emas yang lebih berharga dibandingkan baju-bajunya. Ia membuka buku-buku itu setiap malam dan mengagumi tulisan-tulisan Arab di halaman demi halaman.
"Saya berkhayal bisa menulis tulisan yang indah itu dan saya mulai berpikir pasti ada sesuatu yang berharga dari sebuah budaya yang memiliki bahasa yang sangat artistik. Saya bertekad untuk mempelajari bahas ini begitu saya mulai kuliah pada musim gugur," tutur Burns.
Dua bulan menjelang kuliahnya dimulai, Buns meninggalkan keluarganya di Iowa dan berangkat ke Eropa, sendirian. Usianya ketika itu baru 16 tahun. "Saya ingin melihat dunia dulu sebelum masuk kuliah di Universitas Northewestern. Itulah yang saya katakan pada teman-teman dan keluarga. Padahal sebenarnya saya sedang mencari jawaban. Saya sudah meninggalkan gereja beberapa bulan sebelumnya, dan tak tahu kemana harus berpaling. Saya tak tahu alternatif apa yang akan saya pilih," ungkap Burns.
Ia berharap bisa menemukan ide apa yang akan ia lakukan setelah "keluar" dari gereja. Di gereja, kata Burns, umat Kristiani tidak diizinkan berdoa langsung pada Tuhan. Mereka hanya bisa berdoa pada Yesus dan berharap Yesus akan meneruskan doa itu pada Tuhan. Burns merasa ada yang salah dengan ajaran seperti itu dan diam-diam ia selalu berdoa langsung pada Tuhan. Burns percaya bahwa hanya ada satu entitas dengan siapa ia harus berdoa. Tapi di dalam hatinya, Burns merasa bersalah karena tidak menaati apa yang telah diajarkan agamanya. Situasi itu membuatnya bingung dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.
Burns bertanya-tanya mengapa umat Kristiani diwajibkan ke gereja hanya pada hari Minggu. Ia bingung melihat tingkah orang-orang yang berbeda 180 derajat ketika ada di gereja dan ketika berada di luar gereja. Apakah bersikap baik hanya pada hari Minggu saja, saat mereka semua harus ke geraja? Burns tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Ia membaca tentang 10 larangan Tuhan, seperti tidak boleh membunuh, tidak boleh berbohong, tidak boleh mencuri dan hal-hal buruk lainnya yang sudah jelas. Di luar itu, Burns tak menemukan tuntutan bagaimana ia harus bertindak ketika berada di luar gereja.
"Yang saya tahu, mungkin tidak pantas mengenakan rok mini ke gereja atau kami ke gereja pada hari Minggu supaya bisa melihat cowok-cowok keren di gereja," ungkap Burns.
Suatu hari, ia berkunjung ke rumah seorang gurunya dan di sana ia melihat jejeran alkitab di rak buku. Menurut gurunya, alkitab itu berbeda-beda versi. Ia melihat gurunya tidak terlalu peduli melihat alkitab denga banyak versi berbeda. Tapi Burns merasa tak nyaman mengetahui hal itu. Ia menemukan bagian yang sangat berbeda antara versi yang satu dengan yang lainnya, bahkan ada bab-bab yang tidak ia temukan seperti di dalam alkitab yang sering dibacanya. Burns makin bingung.
Di Eropa ia tidak menemukan jawaban atas kebingungannya. Burns pun pulang dengan perasaan kecewa. Tapi keinginannya untuk mempelajari bahasa Arab tetap membara. Saat menatap tuisan di dinding Masjid Alhambra, Burns tidak menyadari bahwa tulisan itulah jawaban atas semua keresahan jiwanya. Burns baru menyadarinya dua tahun kemudian.
Belajar Bahasa Arab
Di hari pertama ke kampus, Burns langsung mendaftarkan diri ke kelas bahasa Arab. Hanya ada empat orang, termasuk dirinya yang mendaftar ke kelas yang paling tidak populer di kampus itu. Semangat dan minat Burns yang tinggi pada bahasa Arab membuat guru bahasa Arabnya terheran-heran. Ia mengerjakan PR dengan menggunakan pena untuk kaligrafi. Ia juga mengunjungi komunitas Arab di Chicago hanya untuk mencari tahu kebenaran soal bahasa Arab dalam tulisan botol Coca Cola. Setengah memelas, Burns memohon agar guru bahasa Arabnya meminjamkan buku-buku dalam tulisan Arab agar ia bisa melihat dan mengagumi bentuk tulisan Arab itu.
Di tahun kedua kuliahnya, Burns memutuskan untuk mengambil jurusan studi Timur Tengah. Ia lalu mengambil beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan studi tersebut. Salah satunya mata kuliah tentang Al-Quran.
"Suatu malam saya membuka Al-Quran untuk mengerjakan PR kuliah dan saya tidak bisa berhenti membacanya. Seolah-olah saya menemukan sebuah novel menarik yang membuat saya terus membacanya. Membaca Al-Quran, hati saya berteriak 'Wow, ini hebat sekali. Inilah yang selalu saya yakini.' Al-Quran memberikan jawaban atas semua pertanyaan saya soal bagaimana kita harus berperilaku setiap hari dan dalam Al-Quran juga dengan jelas ditegaskan bahwa Tuhan itu satu," papar Burns.
Ia mengaku terkagum-kagum ada sebuah "buku" yang menuliskan semua yang ia yakini dan apa yang selama ini ia cari, dan apa yang tertulis di dalamnya, semuanya masuk akal. Keesokan harinya ia di kelas Al-Quran ia menanyakan tentang pengarang "buku" itu, karena di "buku" itu tertulis satu nama orang.
Profesor di kelasnya memberitahunya bahwa nama yang tertulis di dalam "buku" itu bukan nama pengarangnya tapi nama penerjemahnya. Burns juga mendapat penjelasan bahwa Qur'an berisi firman-firman Allah dan sejak diturunkan tidak penrah mengalami perubahan, terus dibaca dan kemudian dikumpulkan dalam bentuk "buku".
"Saya betul-betul terpesona dan makin bergairah untuk mempelajari bahasa Arab, bahkan lebih dari itu, saya jadi ingin mempelajari Islam dan berniat jalan-jalan ke Timur Tengah," tukas Burns.
Di tahun terakhir kuliahnya, ia berangkat ke Mesir melanjutkan studi Timur Tengahnya. Kota Kairo menjadi tempat "Islami" favoritnya karena berada di masjid-masjid di kota itu membuatnya merasa tenang dan tentram. "Saya bisa merasakan, berada di dalam masjid, seseorang bisa merasakan keindahan, kekuatan dan kehadiran Allah Swt. Dan saya begitu menikmati tulisan-tulisan kaligrafi yang elegan di dinding-dinding masjid," ujar Burns.
Suatu hari, seorang teman Burns bertanya mengapa ia tidak masuk Islam saja jika ia sangat mengagumi Islam. Dengan enteng Burns menjawab, "Tapi saya sudah menjadi muslim", sebuah jawaban yang ia sendiri kaget mendengarnya. Saat itu Burns beranggapan bahwa menjadi muslim adalah persoalan logika dan persoalan sederhana. Burns mengakui Islam adalah agama yang bisa diterima akalnya, memberinya inspirasi dan ia mengakui kebenaran ajaran Islam. Ia berpikir, jika sudah mengakuinya, kenapa ia juga harus pindah agama? Sahabat Burns tadi lalu menjelaskan bahwa ada yang wajib dilakukan Burns jika ia secara resmi ingin menjadi seorang muslim.
Burns akhirnya mengikuti saran sahabatnya itu. Ia lalu datang ke sebuah masjid dan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan dua orang saksi. Ia pun resmi menjadi seorang muslim dan diberikan sebuah sertifikat sebagai tanda bahwa ia sudah menjadi seorang muslim.
"Tapi saya menyimpan sertifikat itu bersama tumpukan surat-surat pribadinya. Buat saya, tidak perlu menggantung sertifikat itu agar orang tahu saya seorang muslim. Saya sudah dan akan selalu menjadi seorang muslim. Begitu saya membuka Al-Quran, saya merasa menemukan keluarga saya yang sudah lama hilang. Saya lebih senang memajang gambar masjid Alhambra di dinding kamar saya, daripada sertifikat keislaman saya," tandas Karima Burns. (ln/oi) www.eramuslim.com

28 Februari 2009

Jangan Takut yang Benar Pasti Menang

Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur (QS Fathir [35]: 10).


Banyak orang merasa silau dengan kekuatan yang dimiliki Amerika Serikat. Jangankan melawan secara fisik, menolak tekanannya pun tak berani. Mereka ngeri berhadapan dengan negara adidaya itu. Besarnya jumlah pasukan beserta aneka persenjataan canggih yang dimiliki Amerika membuat hati mereka merasa kecut. Mereka amat takut diperlakukan seperti Irak dan Afghanistan.
Ketakutan itu sangat tidak beralasan. Sejatinya Amerika tidak sedigdaya seperti yang dibayangkan. Tentara Amerika memang berhasil menumbangkan rezim Saddam Husein. Akan tetapi hingga kini belum bisa menguasai Irak sepenuhnya. Perlawanan sengit oleh mujahidin di Irak membuat tentara Amerika yang tampak gagah perkasa itu kocar-kacir. Padahal perlawanan itu baru dilakukan oleh sebagian kecil kaum Muslim. Andai kaum Muslim bersatu di bawah satu komando, niscaya pasukan kafir itu sudah lama enyah dari sana.
Sesungguhnya kekuatan dan kemulian adalah milik Allah Swt. Dengan kekuasaan-Nya, Dia mampu menolong hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Tak ada kesulitan sedikit pun bagi-Nya untuk menggagalkan semua rencana jahat kaum kafir. Bahkan mereka akan ditimpa azab-Nya yang amat pedih. Banyak ayat al-Quran menegaskan demikian. Di antaranya adalah QS Fathir [35]: 10.

Kemuliaan Hanya Milik Allah Swt
Allah Swt berfirman: Man kâna yurîdu al-'izzah faliLlâh al-'izzah jamîa[n] (barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya). Ayat ini diawali dengan ism al-syarth (kata yang menunjukkan syarat), yaitu kata man. Sebagaimana dituturkan al-Syaukani, kata ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang menghendaki 'izzah. Keumuman itu tidak dikhususkan kepada suatu individu atau kelompok tertentu.
Ibnu Manzhur dalam Lisân al-'Arab memaparkan, pada asalnya kata al-'izzah bermakna al-quwwah wa al-syiddah wa al-ghalabah (kekuatan, kekokohan, kekuasaan). Menurut al-Alusi, al-'izzah dalam ayat ini bermakna al-syaraf wa al-man'ah (kemuliaan dan kekuasaan). Sedangkan lâm al-ta'rîf pada kata al-'izzah memberikan makna umum. Artinya, semua kekuatan, kekuasaan, atau kemuliaan. Keumumannya itu kian dikukuhkan dengan kata jamîa[n] (semuanya). Artinya, semua 'izzah, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam ayat ini ditegaskan, bahwa semua 'izzah itu hanya milik Allah Swt. Selain ayat ini, penegasan yang sama juga disampaikan dalam firman Allah Swt: Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya al-'izzah (kekuasaan) itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah (TQS Yunus [10]: 65). Juga dalam QS al-Nisa' [4]: 139.
Karena hanya milik Allah Swt, maka siapa pun yang ingin memperoleh al-'izzah, dia harus memintanya kepada-Nya. Apabila meminta atau mencari kepada selain-Nya, tentu tidak akan pernah mendapatkannya. Itulah yang dialami oleh kaum kafir yang berharap 'izzah dari sesembahan mereka. Allah Swt berfirman: Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak (TQS Mayam [19]: 82). Juga, kaum munafik yang menyangka 'izzah dimiliki oleh kaum kafir (lihat QS al-Nisa' [4]: 139). Harapan mereka semua akan berakhir dengan kekecewaan.
Sebagai Pemilik al-'izzah, Allah Swt berhak memberikan 'izzah-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki. Dia pula yang berkuasa menimpakan kehinaan kepada siapa pun yang dikehendaki (lihat QS Ali Imran [3]: 26). Hanya saja, yang secara eksplisit dijelaskan mendapatkan al-'izzah dari-Nya adalah Rasul dan kaum Mukmin. Allah Swt: Padahal al-'izzah (kekuatan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui (QS al-Munafiqun [63]: 8).
Itu berarti, ayat ini memberikan pengertian bahwa siapa pun yang menghendaki al-'izzah di dunia dan akhirat, maka dia harus taat kepada Allah Swt. Demikian penjelasan Ibnu Katsir, al-Khazin, Ibnu 'Athiyah, al-Sa'di, dan al-Jazairi dalam kitab tafsir mereka. Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh Qatadah sebagaimana dikutip al-Thabari dalam tafsirnya.
Setelah itu Allah Swt memastikan bahwa semua bentuk ketaatan itu akan sampai kepada-Nya. Allah Swt berfirman: ilayhi yash'adu al-kalim al-thayyib (kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik). Menurut al-Baghawi dan al-Wahidi, yang dimaksud dengan al-kalim al-thayyib adalah kalimat lâ ilâha illaLlâh. Ibnu Katsir memaknainya sebagai dzikir, tilawah, dan doa. Dalam pandangan Abu Hayyan al-Andalusi, kalimat tersebut adalah tauhid, tahmid, dzikrullah, dan semacamnya.
Penafsiran lebih luas diberiken oleh al-Razi dan al-Alusi. Menurut mereka, kalimat thayyibah itu meliputi setiap ucapan yang mengingat Allah Swt atau karena Allah Swt, seperti nasihat atau ilmu. Al-Syaukani juga berpendapat, al-kalim al-thayyib meliputi semua perkataan yang terkatagori sebagai perkataan yang thayyib, baik dzikir kepada Allah, amar ma'ruf, nahi munkar, tilawah, dan sebagainya. Tidak dikhususkan hanya kalimat tauhîd, tahmîd, atau tamjîd. Tampaknya, penafsiran terakhir lebih mencakup kandungan makna ayat ini. Bahwa semua ketaatan qawliyyah itu akan diterima oleh-Nya.
Demikian juga dengan ketaatan fi'liyyah. Allah Swt berfirman: wa al-'amal al-shâlihu yarfa'uhu (dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya). Al-Shabuni menyatakan, amal saleh adalah menunaikan kewajiban, meninggalkan kemaksiatan, dan mengerjakan kebaikan. Atau dengan kata lain, setiap amal yang sesuai dengan ketentuan hukum syara'. Dan itu dikerjakan oleh pelakunya dengan landasan ikhlas karena Allah Swt. Sebagaimana ketaatan qawliyyah, semua ketaatan fi'liyyah itu juga akan dinaikkan ke hadhirat-Nya.
Dengan penegasan tersebut, maka tidak boleh ada keraguan bagi orang yang menghendaki kemuliaan, kekuatan, atau kekuasaan. Dia harus menjalankan semua bentuk ketaatan terhadap-Nya, baik dalam qawliyyah maupun fi'liyyah. Allah Swt tidak akan menyia-nyiakannya. Semua bentuk ketaatan itu akan diterima oleh-Nya dan pelakunya akan dianugerahi kemulian, kekuatan, dan kekuasaan.
Rencana Jahat Pasti Gagal
Nasib sebaliknya dialami kaum yang jahat. Allah Swt berfirman: Wa al-ladzîna yamkurûna al-syay'ât lahum adzâb syadîd (dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras). Menurut al-Syaukani, secara bahasa kata al-makr berarti al-khadî'ah wa al-ihtiyâl (penipuan, siasat licik). Diberitakan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang merancang kejahatan itu diancam dengan hukuman yang amat berat. Yakni azab yang pedih.
Tak hanya itu, rancangan kejahatan itu dipastikan akan menemui kegagalan. Allah Swt berfirman: Wa makru ulâika huwa yabûr (dan rencana jahat mereka akan hancur). Kata ulâika merujuk kepada makar jahat yang mereka rancang. Sedangkan kata yabûr berarti gagal, rusak, dan tidak bermanfaat sama sekali. Itu berarti, rencana jahat yang telah disusun, betapa pun hebat, rinci, dan rapi, pasti akan mengalami kegagalan.
Kegagalan rencana jahat itu juga disampaikan dalam beberapa ayat lainya, seperti firman Allah Swt: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (TQS al-Anfal [8]: 30). Juga QS Ali Imran [3]: 54.
Tidak hanya gagal, rencana jahat itu justru akan berbalik menghantam diri mereka sendiri. Allah Swt berfirman: Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya (TQS al-An'am [6]: 123).

Tak Boleh Takut
Bertolak dari uraian di atas, kaum Muslim tidak boleh merasa takut terhadap kaum kafir. Jika mereka berpegang teguh dengan agama-Nya dan berjuang untuk menegakkannya, niscaya Allah Swt akan memberikan pertolongan-Nya (lihat QS Muhammad [47]: 7, al-Mukmin [40]: 51). Tatkala Allah Swt memberikan pertolongan-Nya, tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan mereka. Allah Swt berfirman: Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? (TQS Ali Imran [3]: 160).
Amat banyak realitas yang telah menjadi bukti kebenaran janji ini. Kemenangan gemilang yang diraih kaum Muslim atas kaum kafir tak terlepas dari faktor ini. Ketika berhadapan dengan kaum kafir di Badar yang jumlahnya jauh lebih besar, Allah memberikan pertolongan terhadap kaum Muslim (lihat QS Ali Imran [3]: 123). Demikian juga pada Perang Khandaq. Pasukan kafir yang terdiri dari berbagai kabilah dan berjumlah 10.000 hendak menggempur kota Madinah yang dijaga 3.000 tentara Islam. Dalam situasi genting ini, Allah Swt mengirimkan angin topan dan tentara malaikat sehingga pasukan multikabilah itu harus pulang dengan menanggung kekalahan (lihat QS QS al-Ahzab [33]: 9). Kejadian amat dramatis juga terjadi pada Perang Mu'tah. Jumlah tentara Islam hanya berjumlah 3.000 bertempur dengan pasukan Romawi yang berjumlah 200.000! Dengan jumlah sangat tidak seimbang itu, umat Islam berhasil memukul mundur pasukan kafir. Masih banyak fakta lain yang menjadi bukti kebenaran janji Allah Swt.
Walhasil, tidak ada alasan bagi kaum Muslim merasa takut terhadap kaum kafir. Jika mereka membawa kebenaran, maka akan melenyapkan kebatilan (lihat QS al-Isra' [17]: 81).
(Salamalaika)

29 Januari 2009

Bid'ah

BID’AH

Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat
buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan
makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik
ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :
“ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,
Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.
Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya
selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian
turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja. Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan...dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).
Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah
saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah
wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang
mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.
Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah
mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak
afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal-hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin
melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di
Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa
Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).
Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?,
adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna
Bid’ah?

Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin,
bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana
sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas
hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul saw.
Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan
dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah
Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw.
Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat
memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah.
Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh
Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa
mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena
kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul
pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al- Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah.
Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-
Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ?
Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal hal baru yang berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).

Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.
Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra,
hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt,
Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat
dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi
Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin

Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah
(Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy
rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah
yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram.
Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum,
sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”.
(Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang
umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau\ pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman
para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?
Walillahittaufiq
Salamalaika
(Sumber : Majelis Rasulallah SAW-Habib Munzir Almusawa)

Kewajiban Negara menangani Kaum Murtad dan Pemalsu Agama

Kewajiban Negara menangani Kaum Murtad dan Pemalsu Agama


Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Muqaddimah
Kaum muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah atas izin dan perkenan Allah SWT kita bisa berkumpul di masjid yang mulia ini untuk melaksanakan salah satu tugas kita sebagai hamba Allah yakni menjalankan ibadah shalat Jum'at. Semoga kehadiran kita dengan niatan yang ikhlas dan suci ini diqabul oleh Allah SWT sebagai amal shalih yang diridlai-Nya. Amin!
Kaum muslimin rahimakumullah,
Tenggat waktu yang diberikan Pemerintah kepada Ahmadiyah untuk melakukan pertobatan dan memperbaiki diri telah mendekati masa akhir, yaitu tanggal 24 April 2008. Sekedar mengingatkan bahwa melalui 12 butir pernyataan Ahmadiyah, mereka tetap menginginkan dianggap sebagai bagian dari ummat Islam, dan oleh karenanya pemerintah memberikan waktu tersebut untuk membuktikan ucapan mereka.
Namun fakta di lapangan, kelompok Ahmadiyah masih tidak berubah dari keadaan awalnya seperti yang telah difatwakan MUI yakni telah keluar dari Islam dan siapapun umat Islam yang masuk di dalamnya jatuh dalam tindakan murtad yang harus segera bertobat kembali kepada Islam (ruju' ilal haq). Juga fatwa MUI dalam Munasnya tahun 2005 yang menguatkan fatwa MUI tahun 1980 itu telah meminta kepada pemerintah untuk membubarkan organisasi Ahmadiyah.
Oleh karena itu, harapan kita umat Islam adalah agar pemerintah/presiden bertindak tegas melarang keberadaan organisasi perusak dan pemalsu aqidah Islam yang bernama Ahmadiyah itu sesuai dengan kewenangannya berdasarkan PNPS Nomor 1 Tahun 1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. Apalagi Presiden SBY secara terbuka telah menyatakan di hadapan para alim ulama peserta rakernas MUI tahun lalu bahwa beliau akan merujuk kepada fatwa MUI.
Dan dalam rangka inilah, Forum Umat Islam (FUI) yang merupakan wadah silaturrahmi dan koordinasi para pimpinan ormas dan orpol Islam di Jakarta akan menggelar “Apel Siaga Umat untuk Bubarkan Ahmadiyah” di depan istana pada hari Ahad, 20 April pukul 9 pagi. Tentunya semua umat Islam yang peduli terhadap kesucian aqidah Islam diharapkan semua turun ke jalan dan ikut bergerak dari masjid Istiqlal ke Istana pada pagi itu.

Kaum muslimin rahimakumullah
Untuk memantapkan hati kita umat Islam, khususnya saudara-saudara kita yang mendapatkan amanah kekuasaan memimpin rakyat muslim ini, mari kita segarkan kembali ingatan kita pada lembaran sejarah utama dari generasi utama umat Islam, generasi para sahabat yang menerima langsung agama Islam ini dari shahibur risalah, baginda Rasulullah SAW. Yakni, sejarah bagaimana sahabat utama Rasulullah, Khalifah Abu Bakar Shiddiq ra menangani kaum murtad dan para nabi palsu?
Kisahnya begini. Pasca wafatnya baginda Rasulul-lah SAW muncul pikiran-pikiran dan usaha-usaha untuk melepaskan diri dari ketaatan dan kewajiban syar'i kepada Negara. Sebut saja misalnya muncul pemberontakan kaum yang menolak membayar zakat. Mereka bersatu dengan kelompok pendukung munculnya nabi-nabi palsu seperti Syajah At Tamimiyah dan Tulaihah bin Khuwailid. Di antara nabi palsu yang terkenal adalah Musailamah al Kaddzab yang didukung oleh sekitar 41 ribu orang dari kalangan Bani Hanafiyah.
Melihat situasi yang begitu genting dan api pemberontakan yang begitu meluas, Khalifah Abu Bakar ra cepat mengambil keputusan untuk menindak tegas para pemberontak tersebut. Untuk itu beliau ra mengirim 11 pasukan dan melantik 11 orang panglima pasukannya untuk menumpas pemberontakan di 11 wilayah yang berbeda dalam waktu yang sama.
Kesebelas panglima tersebut dibekali surat ultimatum khalifah kepada para pemberontak yang isinya antara lain:
Allah berfirman:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran 144).
Telah sampai kepadaku berita bahwa di antara kalian ada sekelompok orang yang akan kembali murtad kepada agama lamanya setelah dia mengakui Islam dan mengamalkannya, karena merasa sombong terhadap Allah, jahil terhadap perintah-Nya, dan karena mengikuti ajakan setan. Allah ber-firman:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir 6).
Sesungguhnya aku mengutus kepada kalian panglima-panglimaku dengan pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin, Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Aku telah perintahkan agar mereka tidak menerima dari kalian kecuali iman kepada Allah, dan tidak memerangi kalian hingga mereka mengajak kalian kepada Allah Azza wa Jalla. Jika orang yang diseru tersebut memenuhi seruan utusanku ini dan mengakui serta beramal salih, maka itulah yang diharapkan darinya dan dia akan dibantu, tapi jika orang yang diajak itu menolak maka hendaklah dia diperangi hingga ia mau kembali kepada syariat Allah.
......
Dengan surat ultimatum khalifah tersebut para panglima bisa mengatasi pemberontakan kaum murtadin. Sebagian mereka seperti Tulaihah kembali kepada Islam dan sebagian yang lain seperti Musailamah tewas terbunuh. Selanjutnya seluruh pengikut mereka yang masih hidup kembali ke pangkuan Islam.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Jelaslah bahwa Islam memiliki sistem penanganan yang efektif terhadap orang yang murtad. Jika mereka sendiri atau hanya beberapa orang, maka setelah diminta bertaubat dan tidak mau kembali, orang-orang itu dihukum mati. Jika mereka adalah kaum yang jumlahnya banyak dan memiliki kekuatan untuk memberontak, maka setelah diminta kembali tapi menolak, mereka diperangi. Dengan demikian kemuliaan dan kemurnian Islam akan tetap terjaga. Menjaga kemuliaan dan kemurnian Islam merupakan tanggung jawab penguasa muslim di manapun dan kapanpun.
Oleh karena itu, dalam surat FUI kepada Presiden tertanggal 1 Rabiul Akhir 1429H (8 April 2008) lalu, pengurus FUI menyampaikan nasihat sebagai sesama saudara muslim, bahwa fungsi penguasa adalah melindungi aqidah umat sebagaimana melindungi keselamatan jiwa dan raga umat itu sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Imam adalah laksana perisai, umat diperangi di belakangnya, dan berlindung kepadanya”.(Sahih Al Bukhari X/114).
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi keselamatan kaum muslimin dengan kesatuan umat dan keteguhan pemimpinnya berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang diwariskan baginda Rasulullah SAW kepada kita semua.
Penutup/Doa.

Pengunjung

Free counters!